STUDY KASUS TEMPLATE MATCH

Contoh Aplikasi
“PENGGUNAAN METODE TEMPLETE MATCHING UNTUK IDENTIFIKASI KECACATAN PADA PCB”

Penerapan metode template matching pada identifikasi kecacatan PCB dapat dilakukan dengan langkah utama sbb:
1. Pengepasan posisi: Dilakukan dengan mencuplik 80% area citra untuk mendapatkan posisi ideal.
2. Hitung nilai korelasi silang : Untuk mengklasifikasikan suatu citra PCB adalah baik dan tanpa cacat sedikitpun, maka nilai korelasi adalah 1 dan cacat total maka nilai korelasinya adalah -1. Rumus yang digunakan adalah :






Dengan :

3. Deteksi akhir : Dari nilai korelasi yang didapat, nilai tersebut kemudian di konversikan dalam rentang 0 sampai 255 pada channel red untuk digambarkan dalam bentuk segiempat pada titik koordinat citra PCB yang mengalami cacat.
Prinsip metode ini adalah membandingkan antara image objek yang akan dikenali dengan image template yang ada. Image objek yang akan dikenali mempunyai tingkat kemiripan sendiri terhadap masing-masing image template.
Pengenalan dilakukan dengan melihat nilai tingkatkemiripan tertinggi dan nilai batas ambang pengenalan dari image objek tersebut. Bila nilai tingkat kemiripan berada di bawah nilai batas ambang maka image objek tersebut dikategorikan sebagai objek tidak dikenal.
Selanjutnya untuk dapat mengimplementasikan metode templete matching maka perlu dilakukan sejumlah operasi pengolahan citra digital, antara lain:
•    Penapisan Citra (Filtering) : dilakukan bila citra yang akan dianalisis memiliki derau sehingga perlu dihaluskan dengan tapis citra. Perancangan tapis dengan memanipulasi piksel-piksel tetangga membuat citra lebih halus, bentuk sudut, dan tepi citra tetap terjaga. Pada proses perekaman citra digital dapat terjadi gangguan yang bersifat frekuensi rendah, dimana terjadi proses pemerataan intensitas cahaya pada suatu titik sampel dengan titik-titik tetangganya. Gangguan lain yang sering terjadi pada proses perekaman citra digital adalah terjadinya gangguan berbentuk garis-garis akibat adanya kerusakan pada sebagian detektor sensor. Juga sering dijumpai gangguan lain dalam bentuk bercak hitam yang acak.
•    Pengambangan (Tresholding) : digunakan untuk mengubah citra dengan format keabuan yang mempunyai nilai lebih dari dua ke format citra biner yang hanya memiliki dua nilai (0 atau 1). Dalam hal ini titik dengan rentang nilai keabuan tertentu diubah menjadi warna hitam dan sisanya menjadi warna putih atau sebaliknya.
Aplikasi yang akan dibangun adalah sebuah simulasi sederhana untuk proses AOI (Automated Optical Inspection), dalam hal ini diasumsikan PCB master dan PCB input deteksi telah tersedia dalam bentuk file bitmap.
Secara umum implementasi dari identifikasi kecacatan PCB dengan menggunakan metode Templete Matching ini dapat digambarkan sebagaimana pada Gambar 1. Pada Gambar 1 tersebut :
• Grayscale digunakan untuk merubah citra warna menjadi citra keabuan.
• Median Filter : Digunakan untuk melakukan proses penapisan jika citra dianggap masih mengandung derau.
• Batas Ambang : Digunakan untuk mengatur tingkat proses pengambangan pada citra






Gambar 1 Penerapan Templete Matching pada Identifikasi Cacat PCB


Pada penelitian sejenis, umumnya output dari penggunaan templete matching adalah berupa prosentase kemiripan antara image master dengan image input. Untuk permasalahan identifikasi kecacatan pada PCB ini, maka outputnya adalah posisi blok pada PCB input yang tidak sesuaidengan PCB master. Posisi blok itulah yang diidentifikasi terdapat kecacatan.


Pada penelitian ini dilakukan upaya untuk mendeteksi kecacatan pada PCB RAM. Dalam hal ini digunakan dua buah model PCB, yaitu PCB acuan (master) dan PCB RAM yang cacat. Aplikasi akan berusaha untuk mendeteksi kecacatan yang terjadi dalam bentuk output yang menunjukkan letak titik kecacatan pada PCB RAM tersebut. Masing-masing PCB yang digunakan adalah sebuah citra berkarakteristik bitmap. 

Sebelum digunakan sebagai acuan pada pada proses templete matching ini,maka PCB master terlebih dahulu dibuatkan model grayscalenya. Pembentukan model grayscale ini dilakukan setelah sebelumnya menerapkan pemrosesan penapisan dan pengambangan citra. Gambar 2 menunjukkan pola grayscale dari PCB master.

Hal yang serupa juga dilakukan pada model PCB yang akan diidentifikasi. Gambar 3 menunjukkan pola PCB masukan yang siap diidentifikasi. Terlihat secara sekilas antara dua pola gambar tersebut tidak nampak perbedaan. Dengan demikian apabila inspeksi kecacatan dilakukan secara manual maka tidak akan mudah terdeteksi.


Setelah dua buah citra tersebut diproses dengan menggunakan aplikasi templete matching, maka terlihat hasil identifikasinya berupa lokasi dimana terdapat ketidak cocokan pola dan diasumsikan bahwa pada lokasi tersebut terdapat kecacatan PCB.Dalam hal ini titik-titik yang dianggap cacat karena tidak sesuai dengan citra pada master akan ditandai dengan blok korelasi berwarna merah dimana ukuran blok korelasi tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh user. Gambar 4 menunjukkan output hasil template matching pada PCB input. Pada Gambar 4 tersebut terlihat adanya blok korelasi pada titik yang dianggap cacat karena memiliki kesalahan berupa putusnya jalur sirkuit PCB.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar